KAMPUNG
PRAIWOLA-WAILAWA
Jika anda terlahir sebagai pelancong yang ingin merasakan aura eksotisme kampung tua dan kuno, inilah Surga bagi anda di Kampung Praiwola.
Suatu peradaban manusia-manusia klasik yang menjadi pendahulu dari 3 suku besar Wailawa. Terletak di belakang SD Katholik Wailawa, sekitaran jantung Kota Waibakul di Desa Wailawa Kecamatan Katikutana Selatan-Kabupaten Sumba Tengah.
Terdapat batu kubur super megah ‘Watu Pawihi’ atau batu kubur berkaki yang diperkirakan sudah berumur seribu tahun. Konon, batu kubur tua yang diberi nama ‘Watu Tillu Dappa, Wauki tillu Bangu’ ini menyisakan sejarah unik yang ditarik dengan benang, ‘Kaba’ dari tempat rendah sampai ke Kampung Praiwola yang berada di Puncak gunung. Kubur megalit ini diperkirakan adalah termasuk kubur batu berkaki ‘Watu Pawihi’ tertua dan terbesar yang pernah ada di Sumba Tengah, ditambah dengan kuburan-kuburan orang yang kalah dari peperangan pada jaman dulu antar kabisu-kabisu (suku) yang menjadi musuh orang Wailawa.
Jika anda terlahir sebagai pelancong yang ingin merasakan aura eksotisme kampung tua dan kuno, inilah Surga bagi anda di Kampung Praiwola.
Suatu peradaban manusia-manusia klasik yang menjadi pendahulu dari 3 suku besar Wailawa. Terletak di belakang SD Katholik Wailawa, sekitaran jantung Kota Waibakul di Desa Wailawa Kecamatan Katikutana Selatan-Kabupaten Sumba Tengah.
Terdapat batu kubur super megah ‘Watu Pawihi’ atau batu kubur berkaki yang diperkirakan sudah berumur seribu tahun. Konon, batu kubur tua yang diberi nama ‘Watu Tillu Dappa, Wauki tillu Bangu’ ini menyisakan sejarah unik yang ditarik dengan benang, ‘Kaba’ dari tempat rendah sampai ke Kampung Praiwola yang berada di Puncak gunung. Kubur megalit ini diperkirakan adalah termasuk kubur batu berkaki ‘Watu Pawihi’ tertua dan terbesar yang pernah ada di Sumba Tengah, ditambah dengan kuburan-kuburan orang yang kalah dari peperangan pada jaman dulu antar kabisu-kabisu (suku) yang menjadi musuh orang Wailawa.
![]() |
| Sumber: explore Sumba Tengah 2016 |
Tiga
orang kakak beradik: Umbu Marawa Reri Sudi, Umbu Talu Wuamanera, dan Umbu Gaji
Pala’botu berada dalam kubur ini, mereka adalah generasi keempat dari leluhur
orang Gailarumarada, Umbu Sudi Rappa dan Rambu Tarebi yang disebut sebagai
pendiri kampung Laitarung. Tiga orang kakak beradik inilah yang menjadi cikal
bakal sub suku Wailawa; Praiwola, Pugilori dan Kabelawuntu (Kalebu’babang Wuku
Tana Matutu) yang tersebar di sekitaran Sumba Tengah Dan Sumba Barat (Laba
Riri, dan Kampung Prai Ijing).
“Meti Mangudolu, Hada Mangulangu” adalah sebutan untuk Kilat (Halilintar) Marapu di Kampung ini atau dalam bahasa Anakalang seringkali disebut ‘Marapu Ka’balla’.
![]() |
| Sumber: Explore Sumba Tengah 2016 |
“Meti Mangudolu, Hada Mangulangu” adalah sebutan untuk Kilat (Halilintar) Marapu di Kampung ini atau dalam bahasa Anakalang seringkali disebut ‘Marapu Ka’balla’.
Masyarakat suku Wailawa meyakini bahwa
setiap orang yang menjadi korban dari “Marapu Ka’balla’ ini adalah mereka yang
mendapat hukuman dari Sang Khalik “Nama Liang Mata Bakul, Nama Belaru Kahilu’
atau Sang Kreator Agung.
Bahkan sampai sekarang, kepercayaan ini masih terbawa
kepada generasi-generasi masa kini di suku Wailawa.
Kampung tua ini meninggalkan aura Magis yang menarik hati anda untuk datang berkunjung.
![]() |
| Sumber: Explore Sumba Tengah 2016 |
Kampung tua ini meninggalkan aura Magis yang menarik hati anda untuk datang berkunjung.
Sumber: Explore Sumba Tengah
Red. Agustinus Umbu Sunga
2016




Tidak ada komentar:
Posting Komentar