Rabu, 05 September 2018

Purung Ta Liang Marapu



PURUNG TA LIANG MARAPU

Prosesi  Adat  Purung Ta Liang Marapu berlangsung pada sekitar bulan September sampai bulan Oktober setiap tahunnya. Bagi anda peminat wisata budaya jangan sampai melewatkan sebuah Event besar ritual di kampung 'Deri-Kambajawa', Parewatana, desa Umbu Pabal Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung ini terletak sebelah timur Kota Waibakul, yang berjarak sekitar 5 km dari pusat Kantor Pemerintahan Kabupaten Sumba Tengah.  Sebuah Ritual yang sangat akrab dengan Penghargaan kepada Sang Khalik (Marapu) ini berlangsung sangat sakral.
Ritual adat ini terlaksana sangat Suci, bahkan pada saat berlangsung semua aktivitas termasuk pekerjaan fisik seperti pengerjaan rumah, jalan, bunyi-bunyian termasuk pukulan Gong sangat dilarang oleh Para Rato pada saat ritual ini berlangsung, sama halnya dengan Hari Sabath bagi orang Yahudi dan Kristen yang melarang aktivitas pada hari Minggu.

Rato (Tua Adat) Berjalan menuju Lokasi Festival
 Rato adalah seorang pendeta dalam aliran kepercayaan asli orang sumba. Rato mempunyai tugas khusus dan menjadi tokoh terkemuka dalam kebiasaan orang Sumba yang menjalankan fungsi sama seperti Pendeta dalam Agama Kristen dan Ulama dalam Agama Islam. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh orang Sumba, harus berawal dari sebuah “Hamayang” atau “Nyabba” (berdoa)  yang dilakukan oleh para Rato.

Rato (Tua Adat) melakukan pemantauan peserta ritual

Ritual ini dideskripsikan sebagai sebuah bentuk syukur kepada sang Khalik atau Marapu, dengan artian lain “Mata Liang Bakul-Bellaru Kacullu”. Secara harfiah, Purung Ta Liang Marapu mempunyai arti sebagai berikut: Purung berarti turun atau menuruni, Liang atau goa dan Rato atau tokoh terkemuka dari setiap kabisu atau suku. Para Rato dari setiap Kabisu (suku) melakukan ibadah/Hamayang di Liang yang sakral sebuah tempat Persembahyangan Marapu masyarakat. Ta Liang berarti disebuah goa. Marapu merupakan  sebuah kepercayaan asli orang Sumba, bisa juga berarti Marapu adalah Sang Khalik itu sendiri.

 Rato (Tua Adat) melakukan perjalanan ke lokasi ritual

Purung  Ta Liang Marapu merupakan ritual adat masyarakat kampungn Deri Kambajawa yang berada di desa Umbu Pabal. Nama desa Umbu Pabal sendiri  merupakan nenek moyang terdahulu dari masyarakat setempat dan sekitarnya yang juga pencetus dari ritual adat ini.Ritual ini dilakukan sebelum musim tanam pada setiap tahun (bertani dan berkebun) untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dan Marapu atau Sang Khalik yang dilakukan dengan penuh kesucian agar selalu diberi berkat dan hasil yang melimpah. Event adat ini juga memberi petunjuk kepada para Rato tentang tanda-tanda alam dan ramalan yang diberikan Marapu serta larangan-larangan yang tidak boleh diperbuat oleh masyarakat sekitar lewat penyembelihan ayam yang dilihat oleh Rato dalam hati ayam tersebut.

 Rato (Tua Adat) melakukan perjalanan ke lokasi ritual
Ketika melakukan rituan Purung ta Liang Marapu, segala persiapan dilakukan. Bahan-bahan seperti beras, ayam, periuk tanah, bola (tempat saji dari anyaman pandan), tikar dan lain-lain dibawa ke hutan tempat kegiatan ritual berlangsung untuk dipergunakan secara bersama-sama. Juga berbagai aktivitas suci dilakukan oleh Rato dan masyarakat dari kampung Deri Kambajawa. Salah satunya tari-tarian (reja) dan pergelaran pemandian batu kilat atau “Watu Ka’balla” oleh Rato. Batu kilat ini sangat mistis dan dijadikan simbol hukuman dari Sang Khalik jikalau ada masyarakatnya yang melanggar aturan adat yang sangat berat sesuai dengan cluster masing-masing. Masyarakat juga percaya bahwa orang-orang yang terkena petir atau kaballa adalah mereka yang melanggar aturan dalam kebiasaan kehidupan adat Marapu.
Masyarakat Umbu Pabal-Parewatana secara umum memiliki 5 suku besar dalam tatanan Kabisu:

  1. Kabisu Deri sebagai Ina Ama (Suku yang di tuakan).
  2. Kabisu Awanang (sebagai tangan kanan)
  3. Kabisu Ranyiaka (Gaba Koda-mempunyai fungsi yang sama dengan Kabisu Deri). ‘Gaba   Goru Winnu-Papa Tewu Kutta’
  4. Kabisu Tokang (sebagai pendorong, pembina, dan pengarah). Menjadi penengah dalam 5 kabisu jika ada konflik
  5. Kabisu Lagu (hampir sejajar dengan fungsi Kabisu Tokang). Menjadi penasihat di 5 kabisu dan merupakan kabisu paling bungsu.
Ada satu hal yang paling unik dari Kampung Deri-Kambajawa yaitu keberadaan Kubur berbentuk Elips yang terbuat dari batu seperti batu kali yang terletak dibawah Kampung. Kubur batu ini bernama “Ka’boba Maga’da Dana Gawu” yang menjadi penjaga dari Mara’da ‘Bakul (padang luas) di Umbu Pabal.

 Video prosesi persiapan ritual adat Purung ta Liang Marapu
Berikut adalah sekilas gambaran tentang prosesi ritual adat Purung Ta Liang Marapu.
Penasaran..?, Ingin mencari tahu banyak tentang prosesi Ritual ini?, Datang dan saksikanlah secara langsung.
Red: Agus Umbu Sunga.
Sumber: Pemuda Sayap Gogali
Editor: Umbu Dedi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar